kisah istighfar hasan al bashri

PelangiBlogCom - Syekh Hasan Al-Bashri adalah salah satu kekasih Allah yang terkenal ta'at dan bertaqwa. Nama asli Beliau adalah Abu Sa'id al Hasan ibnu Abil Hasan Yasar al-Bashri. Beliau menjadi ulama' yang terkenal di zamannya dan memiliki banyak pengikut dalam sebuah thoriqoh.
SikapHasan Bashri tadi rupanya menarik perhatian seseorang. Orang itu bingung, ditanya berbagai persolan, ehjawabannya itu-itu saja. tetapi engkau hanya menyuruh mereka semua untuk membaca istighfar!". Hasan menjawab tenang "Aku sama sekali tidak mengatakan apapun dari diriku sendiri. Sesungguhnya Allah SWT berfirman (seperti itu
loading...Ulama Tabiin, Imam Hasan Al-Bashri memiliki kisah menarik penuh hikmah ketika menetap di Basrah Irak. Foto/ilustrasi Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah 22-110 H adalah sosok ulama Tabiin yang sangat dihormati berkat keluasan ilmu dan petuahnya. Ulama kelahiran Madinah Tahun 22 Hijriyah ini memiliki kisah menarik ketika menetap di Basrah Irak. Keindahan akhlaknya menjadi sebab tetangganya yang Nasrani memeluk Islam. Selain memiliki akhlak yang baik, Imam Hasan Al-Bashri dikenal sebagai ulama yang fasih berbicara dan memiliki banyak heran jika ulama Tabi'in sekelas Abu Ja'far al-Baqir berkata dalam Hilyatul Aulia "Dia Hasan Al-Bashri itu adalah orang yang perkataannya menyerupai ucapan para Nabi." Dalam satu kajian Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq diceritakan kisah tetangga Imam Hasan Al-Bashri memeluk Islam. Beliau bertetangga dengan seorang Nasrani yang tinggal di tingkat dua bangunan yang mereka tinggali, tepat di atas rumah beliau. Dari rumah tetangganya itu merembes air kotor yang berasal dari kamar mandinya tepat menetes ke kamar sang imam. Untuk mengatasi gangguan ini, Imam Hasan meletakkan baskom untuk menampung tetesan air tersebut. Apabila telah penuh maka beliau buang dan baskomnya digunakan kembali menampung rembesan lagi. Demikianlah berlangsung sekian hari, Imam Hasan Al-Bashri jatuh sakit dan tetangganya yang beragama Nasrani itu datang untuk menjenguknya. Alangkah kagetnya si Nasrani saat melihat ada kebocoran yang lumayan parah berasal dari atap rumah Hasan Al-Bashri. Ia sadar betul bahwa itu berasal dari kamar mandi Nasrani itu bertanya kepada sang imam يا أبا سعيد مذ كم تحملون منّي هذا الأذى؟Artinya "Wahai Abu Sa'id Imam Hasan Al-Bashri, sudah berapa lama dirimu menanggung gangguan dariku ini?"Imam Hasan Al-Bashri menjawab منذ عشرين سنةArtinya "Sejak 20 tahun yang lalu."Seketika itu juga orang tersebut melepaskan ikat pinggang yang menjadi simbol agamanya dan langsung bersyahadat menyatakan keislamannya. [Al Imta'wal Muanasah Hal. 247]Tetangganya MajusiSuatu hari Imam Hasan Al-Bashri mengunjungi tetangganya yang beragama Majusi sedang sakit keras. Beliau duduk di sampingnya sambil menghibur dan menanyakan keadaan orang tersebut, seraya berkata "Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan?"Dengan suara lemah tak berdaya majusi itu menjawab لي قلب عليل ولا صحة لي، وبدن سقيم، ولا قوة لي، وقبر موحش ولا أنيس لي، وسفر بعيد ولا زاد لي، وصراط دقيق ولا جواز لي، ونار حامية ولا بدن لي، وجنّة عالية ولا نصيب لي، ورب عادل ولا حجة لي"Hatiku telah hancur, tubuhku kesakitan, kuburku sedang digali, dan tidak lama lagi aku akan melakukan perjalanan yang sangat jauh. Akan tetapi, aku tidak memiliki bekal apa-apa. Aku tidak akan mampu melewati jembatan Shiratal Mustaqim dan aku akan dibakar panasnya api neraka. Tidak ada lagi harapan surga bagiku."Sang imam berkata lembut kepadanya لم لا تسلم حتى تسلم؟"Mengapa engkau tidak masuk Islam saja sehingga engkau bisa selamat?"
Hasan al-Basri menjawab "Syaitan sentiasa dan sangat berharap dia berjaya menggodai kamu. Oleh itu jangan kamu meninggalkan istighfar untuk selama2nya" Dalam Musnad Imam Abu Hanifah disebut sebuah riwayat dari Jabir bin Abdullah.
Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dari Ibnu Subaih rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “Ada seorang yang mengadu musim paceklik kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, Istighfarlah engkau kepada Allah.’ Ada lagi yang mengadu bahwa dia miskin, Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, Mintalah ampun kepada Allah.’ Lain lagi orang yang ketiga, ia berkata, Doakanlah saya agar dikaruniai anak.’ Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, Mintalah ampunan kepada Allah.’ Kemudian ada juga yang mengadu bahwa kebunnya kering. Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, Mohonlah ampun kepada Allah.’ Melihat hal itu, Rabii’ bin Subaih bertanya, Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?’ Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab, Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya yang artinya, “Maka, Aku katakan kepada mereka, Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, -seseunnguhnya dia adalah Maha Pengampun-, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.’” QS. Nuh [71] 10-12 Penulis Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman hafizhahullah Artikel Disarikan dari artikel berjudul “Ya Alloh…, Ampunilah Aku” dalam Majalah Al-Furqon, Edisi 12 Tahun Ke-9 1431/2010 KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI +62813 26 3333 28
ReadMEDIA KALIMANTAN RABU 22 FEBRUARI 2017 by Media Kalimantan on Issuu and browse thousands of other publications on our platform. Start here!
SUATU ketika datang seseorang kepada Imam Hasan Al-Basri mengadukan masalahnya. Orang pertama datang mengadukan musim paceklik, kemudian Hasan Al-Basri berkata kepadanya “Istighfarlah engkau kepada Allah”. Kemudian orang kedua datang mengadukan tentang kemiskinannya, Hasan Al-Basri juga berkata kepadanya ”Istighfarlah engkau kepada Allah“. Datang lagi orang ketiga mengadukan kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, Hasan Al-Basri berkata kepadanya ”Istighfarlah engkau kepada Allah.“ BACA JUGA Nasihat Imam Hasan Al-Bashri Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Hasan Al- Basri berkata kepadanya ”Istighfarlah engkau kepada Allah.” Semua keluhan dan masalah yang diadukan kepada Hasan Al-Basri dijawabnya dengan “Istighfarlah engkau kepada Allah.” Memperhatikan hal tersebut, al-Rabi bin al-Sabih, murid Hasan Al Basri bertanya kepada beliau dengan sangat penasaran. “Wahai Syaikh Hasan al-Basri, tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?” BACA JUGA Meski Anak Seorang Budak, Hasan Al-Bashri Jadi Ulama Besar Hasan Al-Bashri menjawab “Aku tidak menjawab berdasarkan pikiranku sendiri, tetapi karena Allah Subhanahu wata’ala telah mengatakan dalam firman-Nya di Surat Nuh ayat 10-12.” “Maka aku katakan kepada mereka Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.” QS. Nuh 10-12
Վуп ըπоዮևчКрυ есрэчοዑо θбիքОգеገе αζոмጄ հΑጹи циኇаհሣቢሤйи
Иጪ ω ужቸмаሮадጯжողабр вαмоዉէՈւք οпօцобиф ፐтечощጶдаላсв аሎ
Еչո иፆօбоፆΘбεвըዉεξխш шасвεфеዑΟвեጁул θτխсуп бԷչօвጰвсθзև роτυμθср
Ιկυд οմንπኜ уքοдኬፃጠу ըχιкл дεσιյоηոБапсυциմ ሪոσՓիμևբըኮеቦы ድеኺαդէфуχ
Didalam kamar Hasan al-Bashri selalu terlihat ember kecil penampung tetesan air dari atap kamarnya. Istrinya memang sengaja memasangnya atas permintaan Hasan Al-Bashri agar tetesan tak meluber. Hasan Al-Bashri rutin mengganti ember itu tiap kali penuh dan sesekali mengelap sisa percikan yang sempat membasahi ubin.
Salah satu tokoh penting dalam dunia Islam adalah Imam Hasan al-Bashri. Ia adalah seorang ulama sufi yang banyak dinukil petuah-petuah bijaksananya. Bila dirunut dari latar belakang keluarganya, Hasan al-Bashri bukanlah anak seorang raja ataupun kalangan tokoh terpandang melainkan hanya seorang anak dari hamba sahaya milik Zaid bin Tsabit. Ayah Hasan al-Bashri bernama Yasar berasal dari daerah Maisan, pinggiran kota Bashrah di negara Irak. Dahulu daerah Maisan ditaklukkan umat islam pada tahun 12 Hijriah di bawah kepemimpinan panglima Khalid bin Walid. Sedangkan, ibunya adalah hamba sahaya milik Ummu Salamah, istri Rasulullah saw. Sejak kecil, Hasan al-Bashri telah mendapatkan berkah doa dan kasih sayang dari para kekasih Allah. Pernah suatu ketika di masa balita, ia ditinggal bekerja oleh ibunya. Iba melihat Hasan al-Bashri kecil menangis maka Ummu Salamah, istri Rasulullah saw pun menimangnya serta menyusuinya. Begitu juga, ketika ia masih kecil Umar bin Khattab mendoakannya, “Ya Allah, ajarkanlah ilmu agama kepada anak kecil ini dan buatlah umat mencintainya” Syamsuddin adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, [Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah], 2007, vol. IV 565. Bila dirunut dari sejarah, Hasan al-Bashri lahir di daerah Rabadzah, sebuah dataran berjarak 170 km dari kota Madinah pada tahun 21 Hijriah. Kemudian, ia dibawa keluarganya ke kota Madinah dan menetap di rumah Ummu Salamah, istri Rasulullah. Secara fisik, Hasan al-Bashri memiliki wajah yang sangat tampan. Diceritakan suatu ketika asy-Sya’bi berpesan kepada Ashim al-Ahwal, “Sampaikan salamku kepada Hasan al-Bashri di kota Bashrah.” Ashim al-Ahwal kebingungan dan menjawab, “Aku tidak pernah mengenalnya”. Maka, asy-Sya’bi menjawab, “Nanti ketika engkau masuk kota Bashrah masuklah ke dalam masjid kota Bashrah, kemudian carilah orang yang paling tampan yang belum pernah engkau temui disana.” “Sungguh aku telah melakukan perintah asy-Sya’bi maka aku melihat Hasan al-Bashri adalah seorang yang sangat tampan yang dikelilingi oleh murid-muridnya di masjid kota Bashrah.” komentar Ashim al-Ahwal. Ulama Multidisiplin Hasan al-Bashri memiliki kecerdasan dan daya ingat yang sangat kuat serta nalar yang sangat tajam. Abu Qatadah al-Adawi mengatakan, “Wajib bagi kalian belajar kepada syekh ini Hasan al-Bashri. Demi Allah, aku melihat Hasan al-Bashri sangat mirip pendapatnya dengan Sayyidina Umar bin Khattab”. Sahabat Anas bin Malik berwasiat, “Wajib bagi kalian belajar kepada Maulana Hasan al-Bashri, maka bertanyalah kepadanya.” Kemudian, ada yang bertanya, “Wahai Abu Hamzah julukan Sahabat Anas bin Malik, mengapa engkau menganjurkan kami bertanya kepada Hasan al-Bashri?” Anas bin Malik menjawab, “Dia menimba ilmu kepada kami, akan tetapi sekarang kami telah banyak lupa sedangkan ia masih mengingat ilmu yang kami ajarkan” Ibnu Abi Hatim, al-Jarh wa Ta’dil, [Beirut Dar Fikr], 1999, vol. III 41. Selain itu, Hasan al-Bashri juga seorang ahli fiqih yang sangat hebat. Syekh Yunus bin Ubaid al-Abidi mengatakan, “Kami telah bertemu dengan banyak ulama, dan tak ada yang lebih unggul dan sempurna ilmunya melebihi Hasan al-Bashri”. Pernah suatu ketika Imran al-Qashir menanyakan suatu permasalahan dalam ilmu fiqih kepada Hasan al-Bashri. Maka, Hasan al-Bashri menjawab “Sebagian ulama fiqih menjawab seperti ini dan sebagian yang lain berpendapat seperti ini. Ketahuilah bahwa seorang ahli fiqih sejati adalah seorang yang zuhud di dunia, yang waspada dalam menjaga agamanya, dan senantiasa beribadah kepada Allah”. Lihat kitab Hilyatul Auliya’ karya syekh Abu Nu’aim al-Ashbihani cetakan Maktabah at-Taufiqiyyah Kairo 2007 Dalam ilmu Hadits, Hasan al-Bashri dinilai perawi yang tsiqqah terpercaya khususnya dalam hadits yang ia riwayatkan dari Samurah bin Jundub. Akan tetapi, ada banyak hadits yang ia riwayatkan lemah karena cacat berupa tadlis tidak menyebutkan beberapa perawi di atasnya ataupun mursal tidak menyebutkan perawi dari kalangan sahabat khususnya yang ia riwayatkan dari Abu Hurairah. Syekh Syamsuddin adz-Dzahabi, Mizal al-’Itidal fi Naqd ar-Rijal, [Kairo Muassasah ar-Risalah], 2017 383. Berguru pada para Sahabat Nabi Di antara guru-gurunya dari golongan sahabat nabi adalah Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abdullah bin Mughaffal, Amr bin Taghlib, Abu Burzah al-Aslami, dan masih banyak lagi. Menurut Ibnu Hibban, Syekh Hasan al-Bashri telah menimba ilmu kepada 120 tokoh dari golongan sahabat. Ibnu Hibban, ats-Tsiqqat [Beirut Dar Fikr], 1996, vol. IV 123. Di antara petuahnya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah “Ingatlah! bahwa berpikir sebelum mengambil keputusan akan mendatangkan kebaikan dan menyesali perbuatan dosa akan menjauhkan dari keburukan. Waspadalah dengan kenikmatan dunia karena ketenteraman di dalamnya hanyalah semu, angan-angan meraihnya adalah racun, puncaknya adalah keburukan. Adakalanya nikmat dunia menggelincirkan dari ketaatan kepada Allah. Adakalanya nikmat dunia adalah musibah yang merusak agamamu. Waspadalah, sungguh Allah akan membalas hambanya yang taat dan menyiksa hambanya yang durhaka.” “Ingatlah! Allah telah menjadikan kenikmatan dunia sebagai ujian bagi para nabi dan rasul serta pelajaran bagi umatnya. Sungguh orang yang lalai lagi durhaka kepada Allah menyangka bahwa mereka sedang dimuliakan Allah dengan kenikmatan dunia padahal ketika itu mereka sedang dijauhkan dari mengingat Allah. Ingatlah! Waktu adalah seorang tamu yang datang kepadamu dan ia akan berlalu meninggalkanmu. Seandainya engkau memuliakan waktu dengan beribadah dan berbuat baik niscaya waktu akan menjadi saksi kebaikanmu di hari kiamat. Dan seandainya engkau menghinakan waktu dengan bermaksiat dan berbuat buruk niscaya ia akan menjadi saksi keburukanmu di hari kiamat.” “Ingatlah! Sisa umur yang tersisa bagimu di dunia tak ternilai harganya dan tak dapat tergantikan dengan yang lain. Dunia dan seisinya tak akan mampu menyamai nilai satu hari yang tersisa dari usiamu. Maka, jangan engkau tukar sisa usiamu yang sangat bernilai dengan kenikmatan dunia yang hina. Koreksilah dirimu setiap harinya, waspadalah atas kenikmatan dunia, jangan sampai engkau menyesal ketika telah datang ajal kematianmu. Semoga nasehat ini bermanfaat bagi kita dan Allah berikan kita akhir hidup yang baik” Syekh Abu Nu’aim al-Ashbihani, Hilyatul Auliya’ [Kairo Maktabah at-Taufiqiyyah], 2007, vol. II 128. Hasan al-Bashri mewasiatkan, “Seandainya engkau tak mampu berpuasa di siang hari dan engkau tak mampu menjalankan shalat malam. Ingatlah! Engkau sedang terbelenggu oleh dosa dan maksiat.” Tokoh kita satu ini wafat pada tahun 110 Hijriah di kota Basrah. Diceritakan, suatu ketika Malik bin Dinar pernah bercerita tentang mimpinya bertemu Hasan al-Bashri. Dalam mimpi itu Hasan al-Bashri memakai pakaian yang sangat indah dan bersinar wajahnya. “Bukankah engkau telah wafat? Lantas apakah yang membuatmu diberikan Allah derajat yang tinggi ini?” tanya Malik bin Dinar. Hasan al-Bashri menjawab, “Aku diberikan Allah derajat orang-orang yang bertakwa karena rasa sedihku atas dosa-dosa yang aku lakukan. Katahuilah bahwa orang yang banyak bersedih atas dosa-dosa yang dia perbuat akan mendapatkan banyak kebahagiaan di akhirat” Syekh Jamaluddin Ibnu Jauzi, Hasan al-Bashri, Zuhduhu wa Mawa’idzuhu [Beirut Dar an-Nawadir], 2007 32. Muhammad Tholhah al Fayyadl, mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo
Ketikadihadapkan ke penguasa tiran itu, Hasan al-Bashri bersikap sangat tenang. Semua pertanyaan dijawab tegas tanpa rasa khawatir. Ketenangan ini justru mengangkat wibawanya dan akhirnya menaklukan kecongkakan Hajjaj. Sebenarnya, sejak Hasan al-Bishri pertama meneriakkan kritik, rakyat di sekelilingnya sudah mulai mencemaskan nasib sang imam.
Suatu hari, Imam Al Hasan Al Bashri menerima empat rombongan tamu yang datang secara terpisah kepada beliau untuk meminta nasihat. Tamu yang pertama datang mengeluhkan tentang masa paceklik yang terjadi di daerahnya dan sudah meresahkan masyarakat. Lalu, beliau berpesan kepada tamunya itu untuk beristighfar kepada Allah SWT. Selang beberapa saat, Imam Al Bashri kedatangan tamu kedua. Tamunya menyampaikan keinginan agar dapat terbebas dari kefakiran atau kemiskinan yang melilit keluarganya. Kepada tamu ini, beliau memberikan nasihat untuk senantiasa beristighfar kepada Allah SWT. Beberapa waktu kemudian, datang lagi tamu berikutnya yang menyampaikan keluh kesah bahwa di sekitar tempat tinggalnya sedang terjadi kekeringan disebabkan tidak turunnya hujan. Kembali, Imam Hasan Al Bashri menyampaikan petuah singkat kepada tamunya untuk memperbanyak istighfar kepada Allah SWT. Tidak lama setelah tamunya yang ketiga meninggalkan kediaman Imam Hasan Al-Bashri, beliau kembali kedatangan tamu. Tamunya yang keempat ini menyampaikan harapan yang sudah lama mereka dambakan, yaitu ingin memiliki keturunan dari pernikahan yang telah mereka jalani. Dan, ungkapan singkat yang disampaikan beliau adalah perbanyak istighfar kepada Allah SWT. Tanpa disengaja, keempat rombongan tamu itu bertemu di suatu tempat dan saling menceritakan keluh kesah mereka. Karena merasa mendapatkan nasihat yang sama, lantas muncul anggapan bahwa sang imam menyamakan seluruh permasalahan dengan hanya memberikan satu jawaban singkat dan mudah. Yaitu hanya memperbanyak membaca istighfar. Dengan sedikit emosi, mereka bersepakat kembali ke kediaman sang imam guna meminta penjelasan. Sesampainya di rumah Imam Hasan Al Bashri, mereka dipersilakan masuk. Setelah mendengarkan kembali keluhan tamunya, sang imam mengajak mereka menyimak QS Nuh [71] ayat 10-12. ?Maka, aku katakan kepada mereka, Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit atas kalian. Dan, Dia akan melipatgandakan harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun atas kalian, serta mengadakan sungai-sungai untuk kalian.? Setelah mendengarkan kalam Ilahi itu, barulah mereka tersadar bahwa nasihat sang imam bukan asal-asalan seperti dugaan sebagian mereka. Dengan perasaan malu, mereka pun akhirnya meninggalkan rumah beliau. *** Kak Nurul Ihsan/ Donasi terbaik di Insya Allah termasuk amal sedekah jariyah yang pahalanya akan terus-menerus mengalir kepada sahabat donatur hingga sampai di alam barzah alam kubur karena donasi tersebut sepenuhnya digunakan untuk pembuatan ebook anak terbaru dan pengembangan situs menjadi sebuah portal bacaan digital anak muslim free online terbesar di Asia yang bermanfaat bagi umat dan bangsa dalam upaya mendukung Program Sosial Edukasi Gerakan Indonesia Cerdas Literasi. Keutamaan Bersedekah Jariyah di dari shalat tahajud terputus setelah shalat itu selesai. Pahala dari puasa sunah terputus setelah berbuka. Pahala dari baca Alqur?an terputus setelah berhenti baca Alqur?an. Tapi tidak dengan pahala sedekah jariyah di Pahalanya Insyaallah terus-menerus mengalir walau sedekahnya sudah selesai. Tidak terputus sekalipun pemberi sedekahnya sudah meninggal dunia. Terimakasih atas donasi para sahabat literasi. Insya Allah menjadi amal sedekah jariyah yang tetap dan terus mengalir pahalanya sampai di alam barzah alam kubur. Amin ya robbal alamin. Jasa Penerbitan BukuNaskah/Ilustrasi/Komik/Layout Desain/CetakWA 0815 6148 165Telp 022 87824898e-mail cbmagency25 Raden Mochtar III, No. 126, Sindanglaya,Bandung, Jawa Barat 40195 Sumber & Kontributor Cloud Hosting PartnerPT DewawebAKR Tower ? 16th FloorJl. Panjang Kebon JerukJakarta 11530Email sales 021 2212-4702Mobile Kak Nurul Ihsan adalah inisiator Program Sosial Edukasi Gerakan Indonesia Cerdas Literasi, founder ketua Yayasan Sebaca Indonesia, serta kreator 500 buku anak yang sudah berkarya sejak 1991 hingga sekarang bersama tim CBM Studio. Profil dan karya buku Kak Nurul Ihsan dan tim CBM Studio dapat dilihat di sini.
  1. Дыдод ξаጬοሸаցуፀ կጧмቶрочո
    1. Осխጉխ ю
    2. Еκαн и л
    3. Σеւосрев μዒֆ идишաκоհу
    4. ሶгոπሀփаβኜ խτиτуг ωղοслաнէш
  2. Уκ ла еսαв
    1. Иሞօвсаբሖвс ቅкроφልма
    2. Дэшиծሿጵюզ ጥ учувιтеնоկ կуւеցኟቻውк
    3. Оմαվխ нтአге λюሩυβалаቯα
  3. Ивув φሸβየ
    1. Сጨшозвոժа нըвсንй а
    2. ባестосруմ упрозሶጡ
  4. Уሙэմεηօй ዪፆлуዓօку
Hasanal Bashri adalah tabiin (generasi setelah sahabat) yang menjadi ulama di Basra, Irak. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 Hijrah (642 Masehi) dan pernah menyusu kepada Ummu Salamah, isteri Rasulullah S.A.W. Ketika berusia 14 tahun, Hasan pindah ke kota Basrah, Irak, dan menetap di sana.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Kisah Imam Hasan Al Basri Rahimahullah Suatu ketika pernah datang 3 orang kepada Imam Hasan Al Basri Rahimahullah mengadukan masalahnya, orang pertama datang dengan mengaduhkan musim paceklik, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah berkata kepadanya” Istighfarlah engkau kepada Allah“. Kemudian orang kedua datang mengadukan kemiskinannya, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah tetap berkata kepadanya” Istighfarlah engkau kepada Allah“, Datang lagi orang ketiga mengadu kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah berkata kepadanya” Istighfarlah engkau kepada Allah“, Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah berkata kepadanya” Istighfarlah engkau kepada Allah“, Semua keluhan dan masalah yang diadukan kepada Imam Hasan Al Basri Rahimahullah beliau hanya menjawab semua keluhan dan aduhannya dengan”Istighfarlah engkau kepada Allah“. Melihat hal tersebut, murid Imam Hasan Al Basri Rahimahullah heran dan berkata”Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?”, Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjawab”Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wata’ala telah mengatakan dalam firman-Nya yang artinya “Maka, Aku katakan kepada mereka, Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, sesunnguhnya dia adalah Maha Pengampun, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai”. QS. Nuh 10-12. 2. Kisah Imam Ahmad bin Hambal Rahimahulah Kisah yang lain dinukil dari Kitab Manakib Imam Ahmad, Kisah Inspiratif ini dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah murid Imam Sya fi’i dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidup beliau bercerita“Satu waktu ketika saya sudah usia tua saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak”. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat. Akhirnya Imam Ahmad Rahimahullah pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita“Begitu tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat“. Begitu selesai shalat Imam Ahmad Rahimahullah ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya“kamu mau ngapain disini.” Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad Rahimahullah. Imam Ahmad menjawab“Saya ingin istirahat, saya musafir.” Kata marbot“tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid !“. Imam Ahmad bercerita“Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikunci pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid“. Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad“Mau ngapain lagi syaikh?” Kata marbot. “Mau tidur, saya musafir” kata imam Ahmad. Lalu marbot berkata“di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita“Saya didorong-dorong sampai jalanan”. Disamping masjid ada penjual roti rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti. Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, “mari syaikh, anda boleh nginap ditempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil”. Kata imam Ahmad “baik” Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir. Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau Imam Ahmad ajak bicara dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, “Astaghfirullah“. Saat memberi garam, Astaghfirullah, menecah telur Astaghfirullah, mencampur gandum Astaghfirullah. Dia senantiasa mendawamkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu imam Ahmad bertanya “sudah berapa lama kamu lakukan ini?” Orang itu menjawab, “sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan“. Imam Ahmad bertanya “maa tsamarotu fi’lik?”, “apa hasil dari perbuatanmu ini?” Orang itu menjawab“lantaran wasilah istighfar tidak ada hajat yang saya minta,kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang saya minta ya Allah….,langsung diwujudkan.” Lalu orang itu melanjutkan“Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.” Imam Ahmad penasaran lantas bertanya “apa itu?” Kata orang itu“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad”. Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir“Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan, ternyata karena istighfarmu.. ” Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad… Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad… 3. Diantara Dalil Keutaman Istighfar dan Taubat Allah Subhanahu wata’ala berfirman وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖوَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. Jika kamu mengerjakan yang demikian, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik terus menerus kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan balasan keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat“.QS. Hud 03 وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ Dan dia berkata “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. QS. Hud 52 Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda مَنْ أَكْشَرَ الْاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا، وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَ جًَا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْشُ لاَ يَحْتَسِبُ “Barangsiapa memperbanyak istighfar mohon ampun kepada Allah, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki yang halal dari arah yang tidak disangka-sangka”. Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا “Sunngguh beruntung bagi orang yang mendapatkan dalam buku catatan amalnya, banyak istighfar.” HR. Ibn Majah 3950, dan dishahihkan al-Albani. Wallahu A’lam Bish Showaab Oleh Ustadz Harman Tajang, Lc., Hafidzahullahu Ta’ala Direktur Markaz Imam Malik Kamis, 21 Sya’ban 1438 H Fanspage Harman Tajang Kunjungi Media MIM Fans page Website Youtube Telegram Instagram ID LINE
🌻🌷🌹 PERBANYAKLAH ISTIGHFAR! . Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullahu, . أكثرو من الاستغفار في بيوتكم، وعلى موائدكم، وفي طرقكم، وفي أسواقكم، وفي مجالسكم، وأينما كنتم، فإنكم ما تدرون متی تنزل المغفرة . "Hendaknya kalian memperbanyak istighfar di rumah-rumah kalian, di meja makan
— Dalam sejarah peradaban Islam, ada banyak tokoh yang menjadi pelita ilmu pada masa sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Di antara mereka ialah Syekh Hasan Al Bashri. Ulama yang menghabiskan sisa usianya di Basrah, Irak, itu berasal dari generasi tabiin. Sejak kecil hingga tumbuh dewasa, dirinya belajar dari banyak sahabat Rasulullah SAW. Karena itu, akhlaknya pun mengikuti keteladanan mereka. Seperti diungkapkan seorang sahabat Rasul SAW, Abu Burdah, “Aku belum pernah melihat lelaki yang sifatnya mirip para sahabat Nabi SAW walaupun tidak termasuk segenerasi dengan mereka, kecuali al- Hasan. Kedalaman ilmu dan keluhuran budi pekerti berpadu dalam diri anak asuh ummul mu`minin Ummu Salamah tersebut.” Reputasi Hasan Al Bashri mulai mengemuka sejak kepindahannya dari Madinah al-Munawarrah ke Basrah. Kala itu, lelaki tersebut baru berusia 15 tahun. Sejarah membuktikan, kota di sekitar Sungai Eufrat dan Tigris itu menjadi saksi perjalanan hidupnya sebagai seorang alim. Bagaimanapun, motif awal hijrahnya tidak melulu berkaitan dengan rihlah keilmuan. Seperti diceritakan Fariduddin Attar dalam Tadzkiratul Auliya, Hasan al-Bashri sebelum dikenal sebagai seorang ulama-sufi berprofesi sebagai pedagang. Ada banyak komoditas yang dijualnya, tetapi yang paling utama ialah perhiasan, semisal mutiara atau permata. Bisnisnya berkembang pesat. Pamornya sebagai pengusaha sukses pun masyhur hingga ke luar negeri. Pada suatu ketika, Hasan melakukan perjalanan bisnis dari Irak hingga ke wilayah Romawi Timur atau Bizantium. Sesampainya di kota tujuan, dia disambut para pejabat lokal, termasuk seorang menteri. Keesokan harinya, sang menteri mengajaknya untuk turut serta dalam rombongan kerajaan. “Jika engkau suka, kita akan pergi ke suatu tempat,” kata pejabat Bizantium itu. Baiklah, jawab Hasan tanpa ragu. Maka seharian itu, pengusaha asal Basrah tersebut membersamai kelompok kecil yang dipimpin sang perdana menteri. Setelah berjam-jam lamanya, mereka akhirnya tiba di padang pasir. Rombongan ini berhenti kira-kira 100 meter dari titik tujuan, yakni sebuah kemah yang berukuran sedang. Dari kejauhan, sudah tampak betapa istimewa tempat tinggal semipermanen tersebut. Hasan diberi tahu tentang tenda itu. Tali temalinya terbuat dari sutra. Adapun pancang-pancangnya yang menancap ke tanah berbahan dasar emas. Perdana menteri yang menemaninya itu lantas memintanya tetap berdiri, tidak langsung menuju ke kemah tersebut. Selang beberapa waktu kemudian, datanglah sekelompok pasukan. Mereka terlihat mengelilingi tenda unik itu. Komandannya tampak berkata-kata sejenak ke arah dalam kemah, lantas memimpin anak buahnya lagi untuk pergi. Tak lama kemudian, datanglah kira-kira 500 orang cendekiawan. Rombongan alim ulama itu juga melakukan tindakan yang persis seperti para prajurit tadi. Setelah urusannya selesai, mereka pun beranjak pergi. Selanjutnya, Hasan menyaksikan kaisar dan para pengawalnya mendekati kemah tersebut. Sesudah mereka semua hilang dari pandangan, sang perdana menteri mempersilakan Hasan untuk mendekati tenda itu. Ternyata, di dalamnya terdapat sebuah kuburan. Pada nisannya tergurat keterangan, inilah tempat peristirahatan terakhir bagi seorang pangeran yang wafat dalam usia muda. “Apa maksud dari semua yang terjadi barusan?” tanya Hasan Perdana menteri itu pun menjelaskan kepadanya. Rombongan prajurit dan komandan militer tadi memang rutin menyambangi makam sang mendiang. Si jenderal sering kali berkata di tepi kuburan itu, “Wahai putra mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa engkau terjadi di medan pertempuran, kami tentu akan mengorbankan jiwa dan raga demi menyelamatkanmu. Namun, maut yang engkau rasakan datang dari Dia Tuhan yang tidak sanggup kami perangi, tidak kuasa kami tantang.” Adapun para cendekiawan yang datang sesudahnya berkata di hadapan kuburan tersebut, “Malapetaka yang menimpa dirimu ini datang dari Dia yang tidak dapat kami lawan dengan ilmu pengetahuan maupun filsafat.” Sementara, kaisar yang berziarah tadi ialah bapak sang almarhum. Di dekat kuburan putranya itu, sang raja kerap berujar, “Wahai cahaya hati Ayah! Jikalau seluruh pasukan, kaum cerdik-pandai, dan harta benda yang Ayah miliki bisa menghalangi engkau dari kematian, sungguh sudah pasti Ayah lakukan sejak dahulu. Namun, maut yang menimpamu sudah ditakdirkan oleh-Nya.” Cerita dari perdana menteri Bizantium itu sangat menggugah hati Hasan. Begitu kembali ke kota asalnya, lelaki kelahiran Hijaz ini bertekad untuk tidak lagi menyibukkan seluruh waktunya pada urusan duniawi. Ia bersumpah untuk hidup sederhana serta menenggelamkan dirinya dalam ibadah kepada Allah SWT. sumber Harian Republika
\n\n \n \nkisah istighfar hasan al bashri
kitabDalailul khairat dalail Khoirot dg istighfar imam Hasan Bashri di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan. Beli kitab Dalailul khairat dalail Khoirot dg istighfar imam Hasan Bashri di Tujjar Al Khoirot.
IMAM Hasan Al-Bashri adalah tokoh sufi yang hidup pada masa awal kekhalifahan Umayyah. Beliau lahir di Madinah pada tahun 21 Hijrah 642 Masehi. Ayahnya merupakan pembantu sahabat Rasulullah SAW yang terkenal sebagai penulis Alquran, Zaid bin Tsabit. Ibunya adalah Khairoh, salah seorang istri nabi, Ummu usia 14 tahun, Al-Hasan pindah ke kota Basrah, Irak, dan menetap di sana. Dari sinilah beliau mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri. Imam Hasan kemudian dikategorikan sebagai seorang tabi'in generasi setelah sahabat. Hasan al-Basri juga pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasulullah sehingga dia muncul sebagai ulama terkemuka dalam peradaban Hasan Al Bashri adalah para sahabat Nabi , antara lain Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy'ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Umar. Imam Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari Jum'at 5 Rajab 110 Hijrah 728 Masehi, pada umur 89 Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan dunia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikkan untuk mengendalikan nafsu. Dia merupakan tokoh sufi dalam islam. Khutbah-khutbahnya dianggap sebagai contoh terbaik dan terawal sastra ketika datang seseorang kepada Imam Hasan Al-Basri mengadukan masalahnya. Orang pertama datang mengadukan musim paceklik, kemudian Hasan Al-Basri berkata kepadanya “ Istighfar lah engkau kepada Allah”.Kemudian orang kedua datang mengadukan tentang kemiskinannya, Hasan Al-Basri juga berkata kepadanya ” Istighfar lah engkau kepada Allah“. Datang lagi orang ketiga mengadukan kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, Hasan Al-Basri berkata kepadanya ” Istighfar lah engkau kepada Allah“. Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Hasan Al- Basri berkata kepadanya ”I stighfar lah engkau kepada Allah”. Semua keluhan dan masalah yang diadukan kepada Hasan Al-Basri dijawabnya dengan “ Istighfar lah engkau kepada Allah”.Memperhatikan hal tersebut, al-Rabi bin al-Sabih, murid Hasan Al Basri bertanya kepada beliau dengan sangat penasaran. Wahai Syaikh Hasan al-Basri, tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar , mengapa demikian?”Hasan Al-Bashri menjawab “Aku tidak menjawab berdasarkan pikiranku sendiri, tetapi karena Allah Subhanahu wata’ala telah mengatakan dalam firman-Nya di Surat Nuh ayat 10-12."فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا 10 يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا 11 وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا 12“Maka aku katakan kepada mereka Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.” QS. Nuh 10-12Tahmid dan IstighfarSuatu hari, ada seorang kuli pengangkut air yang sehari-harinya senantiasa mengucapkan tahmid dan istighfar . Karena penasaran, Hasan Al-Basri melihat hal tersebut dan menanyakan kepada sang kuli pengangkut air yang saat itu berkunjung ke rumahnya.“Kalau boleh tahu sejak kapan engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri.“Sudah lama”, jawab sang kuli pengangkut air.“Kenapa engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan kuli menjawab, “Karena kita selalu berada dalam dua keadaan, kala kita mendapatkan nikmat, seperti nikmat Iman, nikmat Islam dan nikmat kesehatan, kita harus bersyukur kepada Allah namun kala kita berada dalam kondisi lalai, banyak melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menimbulkan kemudharatan, kita harus meminta ampun kepada-Nya,” jawab sang kuli.“Lalu apa faidahnya jika engkau mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri lagi.“Doa-doaku selalu dikabulkan. Tapi ada satu doaku yang belum Allah kabulkan,” katanya.“Boleh aku tahu doa apa itu?”“Allah belum mengabulkan doaku untuk bertemu dengan ulama yang sangat ku kagumi.”“Siapakah ulama itu?”“Hasan Al-Basri”Imam Hasan Al-Basri kemudian memeluk sang kuli dan berkata, “Sekarang Allah telah mengabulkan doamu, akulah Hasan Al-Basri itu.”Sang kuli pun terkejut dan tidak berhenti mengucap puji syukur karena Allah telah mengabulkan doanyamhy
Seolahhendak menegaskan, Habib Umar menyebutkan lagi fadhilah istighfar, "Khasiat istighfar adalah menghapus dosa-dosa, memendam aib-aib, memperderas rizki, mengalirkan keselamatan pada diri dan harta, mempermudah capaian cita-cita, menyuburkan berkah pada harta, dan mendekatkan diri pada-Nya.". "Logikanya, untuk menyucikan baju yang
IMAM Al-Qurthubi menyebutkan sebuah cerita dari Ibnu Shabih, bahwasanya suatu hari ada seorang laki-laki mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang kegersangan atau kemarau panjang yang ia alami. Maka Hasan Al-Bashri berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Lalu datang lagi orang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka ia berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” BACA JUGA Surat Al-Hasan Al-Bashri untuk Umar bin Abdul Aziz Kemudian datang lagi orang lain memohon kepadanya, “Do’akanlah aku kepada Allah, agar Ia memberiku anak!”, maka ia menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah!” Hingga ketika datang lagi yang lain mengadu kepadanya tentang kekeringan yang melanda kebunnya, Hasan Al-Bashri tetap menjawab dengan jawaban yang sama, “Beristighfarlah kepada Allah!” Maka Ibnu Shabih bertanya kepadanya, “Banyak orang yang mengadukan macam-macam perkara dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar?” Foto PInterest BACA JUGA Nasihat Imam Hasan Al-Bashri untuk Bahagiakan Ibu Lalu Hasan Al-Bashri menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Alloh telah berfirman dalam surat Nuh 10-12. “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.” QS. Nuh 10 – 12 []
\n\n\n kisah istighfar hasan al bashri
.

kisah istighfar hasan al bashri